Karya Buya Hamka
Entah, dua posting terakhir ini saya asyik saja
mengulas novel. Tapi, tak apalah. Ini kan
penghujung minggu. Agar suasana sedikit lebih
santai. Setelah beberapa hari yang lalu tentang
Parijs van Java, kali ini soal Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck karangan Buya HAMKA.
Novel ini (mungkin) hampir tak dikenal oleh
anak-anak muda masa sekarang. Saya pun
pertama kali membacanya sewaktu kelas tiga
SD. Bilamana saya melakukan kunjungan ke
beberapa toko buku, novel ini sudah sangat
jarang ditemukan. Kalaupun ada, jarang yang
punya perhatian pada novel ini. Mungkin karena
tutur bahasanya yang amat kental kesan “jaman
dulu”nya. Tapi, justru disitu kemenarikannya.
Novel ini menyorot banyak sisi kehidupan.
Namun, saya mengabaikan banyak sisi yang lain
itu. Saya ingin mengangkat satu sisi saja. Sisi
yang paling banyak pula dirangkai dengan penuh
pesona oleh Buya HAMKA dalam novel ini.
Yakni, tentang cinta.
Perasaan dan kisah cinta dalam novel ini adalah
evaluasi. Ketika banyak perasaan dan kisah
cinta hari ini hanya menjadi barang dagangan
dan tontonan memalukan dalam tayangan
televisi dalam sebuah reality show. Cinta pun
diumbar-umbar tanpa rasa malu. Ketika
perkataan “aku sayang kamu” dipertontonkan.
Ketika peluk dan ciuman dua orang yang hanya
baru berpacaran menjadi kebanggaan untuk
disaksikan banyak orang, padahal aib.
Ketika nilai kesetiaan dan pengertian yang
sesungguhnya tak lagi menjadi landasan dalam
sebuah cinta, hingga banyak rumah tangga
selebriti kita yang berujung perceraian.
Tontonan-tontonan kualitas rendah ini
berdampak buruk bagi moral masyarakat kita.
(Sori, saya memang sudah lama geram soal ini
:P ).
Novel ini mengajarkan kita tentang kesetiaan.
Perhatikan petikan surat Hayati kepada
Zainuddin dalam novel ini,
“…Saya merasa bahwa saya sanggup
memberimu bahagia pada tiap-tiap saat
hidupmu, yang tiada seorang perempuan
agaknya yang sanggup menandingi saya
di dalam alam ini dalam kesetiaan
memegangnya, sebab sudah lebih dahulu
digiling oleh sengsara dan kedukaan,
dipupuk dengan air mata dan
penderitaan…”
Novel ini pun mengajarkan kita tentang tujuan
dan landasan cinta,
“…Dan kalau sedianya engkau kabulkan,
kalau sedianya engkau terima
kedatanganku, saya pun tidak meminta
upah dan balasan dari engkau. Upah yang
saya harapkan hanya dari Dia, Allah Yang
Maha Esa, supaya engkau diberi-Nya
bahagia, dihentikan-Nya aliran air
matamu yang telah mengalir sekian
lama…”
Ketika peradaban kita hari ini terdesak oleh
peradaban dari barat, yang membawa kabur
pengertian-pengertian. Ketika cinta dan kasih
sayang disamaartikan dengan seks. Novel ini
menunjukkan apa cinta dan kasih sayang itu
yang sebenarnya,
“…Dia (Zainuddin) sangat cinta, seluruh
iramanya, ilham yang menerbitkan
semangatnya mengarang, semuanya ialah
lantaran ingat akan Hayati. Sekarang
Hayati telah ada dalam rumahnya, tetapi
tidak diacuhkannya. Itu adalah tersebab
dari cinta yang bermukim dalam hatinya
bukan cinta kenafsuan, tetapi cinta
murni. Cinta yang menyebabkan mulia
budi seorang pemuda yang
dihinggapinya…”
Ketika perasaan cinta hari ini diumbar-umbar
secara berlebihan di hadapan orang banyak
tanpa rasa malu, bahkan sampai ditayangkan di
televisi, novel ini justru menunjukkan bahwa
perasaan cinta itu adalah rahasia, rahasia dua
insan yang memilikinya,
“…Mana tahu, umur di dalam tangan
Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih
sempat engkau ziarah ke tanah pusaraku,
bacakan do’a di atasnya, tanamkan di
sana daun puding pancawarna dari bekas
tanganmu sendiri, untuk jadi tanda bahwa
di sanalah terkuburnya seorang
perempuan muda, yang hidupnya penuh
dengan penderitaan dan kedukaan, dan
matinya diremuk rindu dan dendam…”
Dan, cinta memang melenakan. Tapi, lena cinta
tak harus membuat orang lupa akan Tuhan yang
telah menganugerahi cinta itu. Walau di ujung
kematian sekalipun,
“Tidak Hayati, kau akan sembuh, kita
akan kembali ke Surabaya menyampaikan
cita-cita kita, akan hidup beruntung,
berdua! Tidak… Hayati… tidak!”
“Sabar… Zain, cahaya kematian telah
terbayang di mukaku! Cuma, jika kumati…
hatiku telah senang, sebab telah
kuketahui bahwa engkau masih cinta
kepadaku!”
“Hidupku hanya buat kau seorang Hayati!”
“Aku pun!…”
Beberapa menit kemudian dibukanya
matanya kembali, diisyaratkannya pula
Zainuddin supaya mendekatinya. Setelah
dekat, dibisikannya: “Bacakanlah… dua
kalimat suci… di telingaku.”
Tiga kali Zainuddin membacakan kalimat
Syahadat itu, diturutkannya yang mula-
mula itu dengan lidahnya, yang kedua
dengan isyarat matanya, dan yang
ketiga… dia sudah tak ada lagi!…”
Buya HAMKA
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck