Senin, 22 Mei 2017

SARASEHAN NAHDLIYIN BANDUNG BARAT


REKOMENDASI SARASEHAN SINDANGKERTA KAB. BANDUNG BARAT
1. Meneguhkan kembali sikap NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang menjunjung Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI sejalan dengan spirit hubbul wathan minal iman. Keislaman dan kebangsaan merupakan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan ibarat ruh dan jasad. Aparatur Sipil Negara, TNI/Polri, Mahasiswa/i yang belajar di Perguruan Tinggi Negeri/Swasta yang terbukti melakukan kegiatan yang tidak sejalan dengan empat pilar kebangsaan agar ditindak tegas dan statusnya ditinjau ulang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Warga nahdliyin baik struktural maupun kultural diharapkan berperan aktif dalam menghadapi persoalan keumatan, kemasyarakatan, maupun kebangsaan, menghindari dan menghadang arus radikalisme, politisasi agama, dan hal-hal yang dapat menjadi pemicu (trigger) konflik SARA.
3. Membina hubungan yang sinergis antara pemerintah, TNI/Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat dan semua elemen masyarakat untuk mempererat jalinan komunikasi dan silaturrahim.
4. Reaktualisasi dan revitalisasi fikrah, amaliyah dan harokah nahdliyah di kalangan nahdliyin melalui kaderisasi yang berkelanjutan dan rekrutmen NU struktural didasarkan kepada jenjang karir dan kapabilitas.
5. Memperkuat kemandirian di bidang pemikiran, ekonomi dan politik kebangsaan, sebagaimana tergambar dalam tiga pilar organisasi embrio NU, yakni Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathan.



Jumat, 30 September 2016

Pengertian dalil Naqli dan Aqli

Assalamualaikum ..bismillahirrahmanirrahim
Dalam kesempatan siang hari ini saya akan
coba mengulas tentang pengertian dalil naqli
maupun aqli yang banyak orang tak mengetahui
tentang masalah yang pokok ini dalam
mempelajari ilmu ilmu agama langsung saja.
Dalil Naqli Adalah Dalil yang diambil dari
firman allah atau alquran dan sabda nabi dalam
hadis hadis nya yang mutawatiroh. Para ulama'
sepakat atas wajibnya istidlal dengan dalil naqli
. Karena alquran Diturunkan allah kepada nabi
muhammad Saw dengan cara mutawattir
sedikit demi sedikit .
Dalil Aqli adalah Dalil yang disandarkan pada
aqal . Adapun Ketika anda mempelajari ilmu
tauhid dan itu hukumnya fardhu ain maka anda
di wajibkan menghafal dan memahami semua
sifat sifat wajib mustahil jaiz bagi allah dan
rosulnya berserta dalil Aqlinya bukan naqli .
Jika anda anda hanya hapal sifat wajib
mustahil dan jaiz bagi allah dan rosulnya saja
tanpa menghapal dan memahami dalil aqlinya
maka sebagian ulama' mengatakan bahwa
iman anda tidak sah . walaupun ada ulama'
yang memperkenankan nya namun kualitas
pendapat tersebut lemah .
Sekian dari saya semoga bermanfaat amin ya
robbal alamin

Selasa, 19 Juli 2016

Tenggelamnya kapal Van Der Wijck

Karya Buya Hamka
Entah, dua posting terakhir ini saya asyik saja
mengulas novel. Tapi, tak apalah. Ini kan
penghujung minggu. Agar suasana sedikit lebih
santai. Setelah beberapa hari yang lalu tentang
Parijs van Java, kali ini soal Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck karangan Buya HAMKA.
Novel ini (mungkin) hampir tak dikenal oleh
anak-anak muda masa sekarang. Saya pun
pertama kali membacanya sewaktu kelas tiga
SD. Bilamana saya melakukan kunjungan ke
beberapa toko buku, novel ini sudah sangat
jarang ditemukan. Kalaupun ada, jarang yang
punya perhatian pada novel ini. Mungkin karena
tutur bahasanya yang amat kental kesan “jaman
dulu”nya. Tapi, justru disitu kemenarikannya.
Novel ini menyorot banyak sisi kehidupan.
Namun, saya mengabaikan banyak sisi yang lain
itu. Saya ingin mengangkat satu sisi saja. Sisi
yang paling banyak pula dirangkai dengan penuh
pesona oleh Buya HAMKA dalam novel ini.
Yakni, tentang cinta.
Perasaan dan kisah cinta dalam novel ini adalah
evaluasi. Ketika banyak perasaan dan kisah
cinta hari ini hanya menjadi barang dagangan
dan tontonan memalukan dalam tayangan
televisi dalam sebuah reality show. Cinta pun
diumbar-umbar tanpa rasa malu. Ketika
perkataan “aku sayang kamu” dipertontonkan.
Ketika peluk dan ciuman dua orang yang hanya
baru berpacaran menjadi kebanggaan untuk
disaksikan banyak orang, padahal aib.
Ketika nilai kesetiaan dan pengertian yang
sesungguhnya tak lagi menjadi landasan dalam
sebuah cinta, hingga banyak rumah tangga
selebriti kita yang berujung perceraian.
Tontonan-tontonan kualitas rendah ini
berdampak buruk bagi moral masyarakat kita.
(Sori, saya memang sudah lama geram soal ini
:P ).
Novel ini mengajarkan kita tentang kesetiaan.
Perhatikan petikan surat Hayati kepada
Zainuddin dalam novel ini,
“…Saya merasa bahwa saya sanggup
memberimu bahagia pada tiap-tiap saat
hidupmu, yang tiada seorang perempuan
agaknya yang sanggup menandingi saya
di dalam alam ini dalam kesetiaan
memegangnya, sebab sudah lebih dahulu
digiling oleh sengsara dan kedukaan,
dipupuk dengan air mata dan
penderitaan…”
Novel ini pun mengajarkan kita tentang tujuan
dan landasan cinta,
“…Dan kalau sedianya engkau kabulkan,
kalau sedianya engkau terima
kedatanganku, saya pun tidak meminta
upah dan balasan dari engkau. Upah yang
saya harapkan hanya dari Dia, Allah Yang
Maha Esa, supaya engkau diberi-Nya
bahagia, dihentikan-Nya aliran air
matamu yang telah mengalir sekian
lama…”
Ketika peradaban kita hari ini terdesak oleh
peradaban dari barat, yang membawa kabur
pengertian-pengertian. Ketika cinta dan kasih
sayang disamaartikan dengan seks. Novel ini
menunjukkan apa cinta dan kasih sayang itu
yang sebenarnya,
“…Dia (Zainuddin) sangat cinta, seluruh
iramanya, ilham yang menerbitkan
semangatnya mengarang, semuanya ialah
lantaran ingat akan Hayati. Sekarang
Hayati telah ada dalam rumahnya, tetapi
tidak diacuhkannya. Itu adalah tersebab
dari cinta yang bermukim dalam hatinya
bukan cinta kenafsuan, tetapi cinta
murni. Cinta yang menyebabkan mulia
budi seorang pemuda yang
dihinggapinya…”
Ketika perasaan cinta hari ini diumbar-umbar
secara berlebihan di hadapan orang banyak
tanpa rasa malu, bahkan sampai ditayangkan di
televisi, novel ini justru menunjukkan bahwa
perasaan cinta itu adalah rahasia, rahasia dua
insan yang memilikinya,
“…Mana tahu, umur di dalam tangan
Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih
sempat engkau ziarah ke tanah pusaraku,
bacakan do’a di atasnya, tanamkan di
sana daun puding pancawarna dari bekas
tanganmu sendiri, untuk jadi tanda bahwa
di sanalah terkuburnya seorang
perempuan muda, yang hidupnya penuh
dengan penderitaan dan kedukaan, dan
matinya diremuk rindu dan dendam…”
Dan, cinta memang melenakan. Tapi, lena cinta
tak harus membuat orang lupa akan Tuhan yang
telah menganugerahi cinta itu. Walau di ujung
kematian sekalipun,
“Tidak Hayati, kau akan sembuh, kita
akan kembali ke Surabaya menyampaikan
cita-cita kita, akan hidup beruntung,
berdua! Tidak… Hayati… tidak!”
“Sabar… Zain, cahaya kematian telah
terbayang di mukaku! Cuma, jika kumati…
hatiku telah senang, sebab telah
kuketahui bahwa engkau masih cinta
kepadaku!”
“Hidupku hanya buat kau seorang Hayati!”
“Aku pun!…”
Beberapa menit kemudian dibukanya
matanya kembali, diisyaratkannya pula
Zainuddin supaya mendekatinya. Setelah
dekat, dibisikannya: “Bacakanlah… dua
kalimat suci… di telingaku.”
Tiga kali Zainuddin membacakan kalimat
Syahadat itu, diturutkannya yang mula-
mula itu dengan lidahnya, yang kedua
dengan isyarat matanya, dan yang
ketiga… dia sudah tak ada lagi!…”
Buya HAMKA
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Sabtu, 02 Juli 2016

Puisi sanlat

SANLAT TENGGELAM BERSAMA SORE

Detik-detik perpisahan bersama sang senja
Haru biru air mata tertumpah
Satu persatu sahabat pergi takan kembali
Sang bulan nampak enggan bernyanyi
Kan terkenang satu nyanyian bersama
Saat langkah kaki kontai tak berarah
Dalam sajak ini, riwayat hidup takan pernah mati
Ketika bertemu kembali, Aku, Kau dan juga Mereka, bercerita tentang bidadari yang kita idamkan bersama.